Slamet Junaidi Komisi VI Fraksi NasDem Jawa Timur XI_ Impor Bahan Baku Gula_Raw Sugar

Persatuan dan Kesatuan Harus Mampu Jadi Pesan Natal

Share with:


Jakarta – Anggota Komisi VI DPR Slamet Junaidi berpesan agar seluruh rakyat Indonesia mampu merawat persatuan dan kesatuan bangsa pada momen Natal tahun ini. Menurutnya, kondisi bangsa ini sedang terancam perpecahan karena berbagai persoalan. Salah satunya disebabkan tumbuh suburnya isu SARA dalam kehidupan sosial.

Dengan demikian salah satu cara menjaga persatuan bangsa, kata Slamet, dengan mengingat kembali panjangnya sejarah bangsa untuk meraih kemerdekaan. Sejarah perjuangan untuk meraih kemerdekaan melibatkan semua elemen masyarakat secara kolektif, tanpa ada perbedaan agama, suku, ras, dan budaya.

“Sekurang-kurangnya ada tiga peristiwa penting yang mesti diingat, yaitu Hari Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tiga momentum tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia,” kata Slamet di Jakarta, Selasa (26/12).

Legislator dari daerah pemilihan Jatim IX ini menjelaskan bahwa Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei merujuk pada berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

“Ini salah satu muara dari sejarah bangsa yang panjang,” ujar politisi NasDem.

Laki-laki kelahiran Madura ini juga menuturkan, 20 tahun setelah peristiwa Boedi Oetomo, bangsa Indonesia mengalami satu momen penting yang berkaitan dengan komitmen persatuan, yaitu Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Lebih jauh pria yang biasa dipanggil Haji Idi ini menerangkan Sumpah Pemuda merupakan prestasi besar yang ditorehkan generasi muda saat itu karena mampu menyatukan perbedaan wilayah dan bahasa menjadi satu, Indonesia.

“Bayangkan para pendahulu kita bisa sampai pada keyakinan itu. Bahasa menjadi salah satu intrumen penting dalam rangka mempersatukan kita yang tinggal di negara yang begitu luasnya,” tutur Slamet.

Dua peristiwa besar itu akhirnya berujung pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Diingatkan Slamet, merawat ingatan terhadap momen-momen bersejarah ini menjadi penting. Bila ke depan masyarakat tidak bisa menghayati lagi latar belakang peristiwa itu, persatuan dan kesatuan bangsa akan terancam.

“Persatuan dan kesatuan itu memiliki peran sentral dalam mewujudkan Indonesia secara utuh. Oleh karena itu, persatuan dan kesatuan harus mampu menjadi pesan Natal yang dapat direfleksikan dan dilaksanakan oleh kita semua. Dengan demikian, Indonesia akan terhindar dari segala bentuk ancaman perpecahan,” pungkas Slamet.