Seminar LMN 2

Di Balik Pengembalian Dana Tunjangan NasDem

Share with:


Jakarta – 21 Oktober lalu, Sekretaris Fraksi NasDem Syarif Abdullah Alkadrie, Wakil Ketua Fraksi Luthfi A. Mutty, dan Bendahara Fraksi Ahmad Sahroni menyerahkan uang cash senilai Rp 617 juta kepada wakil bendahara  Sekretariat Jenderal (Setjen) DPR RI. Uang tersebut adalah total kenaikan dana tunjangan anggota fraksi NasDem dari bulan Juli sampai September 2015. 

Syarif juga meminta Setjen DPR tidak memasukkan lagi kenaikan dana tersebut dalam komponen gaji anggota Fraksi NasDem ke depan. Dengan begitu, Fraksi NasDem tidak perlu lagi mengembalikan dana setiap bulannya. Hal ini sebagai bentuk konsistensi penolakan Fraksi NasDem terhadap kenaikan dana tunjangan anggota DPR.

Tak sedikit kalangan masyarakat mengapresiasi langkah NasDem, namun tak sedikit juga yang mencibir. Untuk mempertegas sikap politik itu, Liga Mahasiswa NasDem (LMN) menggelar diskusi dengan tajuk “Partai NasDem Menolak Kenaikan Dana Tunjangan DPR.” 

Diskusi ini bermaksud mengeksplorasi lebih jauh berbagai pertimbangan di balik langkah politik Fraksi NasDem tersebut. Diskusi yang diselenggarakan di Ruang Garuda, Gedung Prioritas, yang juga markas Ormas Nasional Demokrat ini dilaksanakan Kamis (29/10) pukul 15.00. Hadir selaku pembicara dalam acara tersebut Sulaeman Hamzah dan Syarif Alkadrie dari Fraksi NasDem, pengamat politik dari Universitas Nasional Alfan Alvian, dan pengurus LMN Kori Kurniawan.

Sulaeman Hamzah dalam paparannya menjelaskan bahwa sebelum kenaikan dana tunjangan, DPR sempat riuh dengan keinginan untuk menggolkan dana aspirasi bagi anggota dewan. Padahal, dalam kacamatan Sulaeman, dana aspirasi itu tidak sesuai dengan konstitusi. 

Dalam pandangannya, dengan skema dana aspirasi, anggota dewan akan menjadi eksekutor atas program-program pemerintah, yang sebenarnya itu adalah wewenang eksekutif. Setelah dana aspirasi batal, dimana fraksi NasDem juga turut menentangnya, sekarang anggota DPR kembali dimanjakan dengan kenaikan dana tunjangan. Sulaeman melihat hal ini tidak relevan dengan kebutuhan rakyat saat ini.

“Intinya, anggota Fraksi NasDem tak mau berfoya-foya di tengah masyarakat yang masih menjerit,” tegas anggota Komisi IV ini.

Pada kesempatan berikutnya, Syarif Alkadrie mempertanyakan sikap fraksi lain yang terkesan ambigu terhadap dana tunjangan anggota DPR. Saat wacana kenaikan tunjangan itu bergulir dari pemerintah, hanya fraksi PKB yang menerima skema itu, sementara fraksi-fraksi lain semua menyuarakan penolakannya. 

Tapi, ketika kenaikan itu dimasukkan dalam besaran gaji, dan ditransfer ke masing-masing rekening anggota dewan, ternyata semua menerima begitu saja. Semua itu membuat Syarif terheran-heran, mengingat fraksi-fraksi yang kencang mewacanakan penolakan terhadap kenaikan dana tunjangan itu, ternyata sekarang diam seribu basa ketika kenaikan tunjangan sudah di tangan mereka.

“Komitmen moral yang menjadi pegangan utama anggota NasDem. Konsistensi ucapan dan sikap harus seiring, ya akhirnya dikembalikan (kenaikan tunjangan – red). Terserah partai lain seperti apa, biarkan masyarakat yang menilai,” tandasnya.

Sementara itu pengamat politik Alfan Alfian menyatakan apresiasinya terhadap langkah politik NasDem. Dalam hematnya, para politisi dan pejabat negeri ini memang harus mengedepankan sikap empati.

Menurut Alvian, secara teoritik, empati adalah salah satu ketrampilan untuk memanusiakan manusia, sekaligus memunculkan konsep solidaritas dan kebersamaan. Ketika empati hilang, dunia akan terasa kasar, barbar dan brutal. Dia berpesan kepada fraksi NasDem agar terus memeragakan keberpihakannya kepada nilai-nilai yang selama ini selalu dieksplorasi oleh Surya Paloh selaku ketua umum partai. Dalam kerangka ini, langkah Partai NasDem mengembalikan dana tunjangan sudah sesuai dengan politik nilai dan politik gagasan yang menjadi prioritas partai NasDem.

“Yang dilakukan oleh fraksi NasDem tentu saja pembuktian dari empati. Mendahului fraksi-fraksi lain,” urai Alvian.

Acara diskusi yang dihadiri 50 kader Liga Mahasiswa NasDem dan tamu undangan ini berlangsung selama dua jam penuh, dengan berbagai eksplorasi wacana. Fanny Yulia, pengurus pusat LMN yang juga moderator diskusi menutup acara, sembari menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada narasumber mau pun peserta diskusi. Pukul 17.00 WIB, peserta diskusi meninggalkan ruangan setelah ditutup dengan pembacaan puisi oleh Dedy, salah satu Pengurus Pusat LMN.