Yayuk2

Masa Reses dan Pilkada Bagi Sang Dokter Gigi

Share with:


Jakarta – Tangan Yayuk cekatan memilih kaos biru berlogo NasDem yang menumpuk di depan toko pembuatan baju. Cuaca Jakarta yang menyengat, membuatnya harus berguyur peluh untuk sekadar berjalan dari mobil ke toko yang terletak di gang-gang Pasar Senen. Ia pun naik turun tangga dengan peluh semakin mengguyur untuk menjangkau toko langganannya. Betapa pun buruknya tata kelola pasar di bilangan pusat ibukota itu, ia tetap menyebutnya mal, karena lokasi dan produknya yang luas dan lengkap. Menurutnya, pasar seperti itu, sangat sulit dia temui di daerah asalnya, Ngawi, Jawa Timur.

Pembeli kaos itu adalah anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Sri Rahayu, yang berasal dari Jawa Timur. Dia tengah menyiapkan keperluan kampanye untuk empat kabupaten di daerah pemilihannya, yang akan menyambut pilkada serentak awal Desember mendatang.
Untuk ukuran seorang anggota dewan plus seorang dokter gigi, wanita paruh baya ini tergolong pekerja keras dan selalu menyediakan kesiapannya secara total. Termasuk untuk mendukung kampanye Pilkada yang sudah dimulai sejak 27 Agustus 2015 lalu. Dari lima kabupaten kota di dapilnya, empat kabupaten di antaranya melaksanakan pilkada tahun ini, yakni Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan. Meski usianya tak lagi muda, Yayuk selalu bersemangat dan berdiri di garis depan dalam garda pemenangan Pilkada.
“Saya optimis dalam Pilkada ini, karena semua calonnya memang kuat,” tuturnya di tengah keramaian Pasar Senen.
Mengisi masa reses yang tengah berjalan ini, Yayuk telah menyiapkan rangkaian safari politik yang akan dimulai pekan ini. Selama dua minggu di awal November ini, jadwal Yayuk terbilang cukup padat. Selain ikut berkampanye, ia juga mengunjungi konstituennya dan bertatap muka menjaring aspirasi dari bawah.
Bagi Yayuk, masa reses adalah hal yang paling ditunggu, karena dalam kegiatan inilah ia bisa berdialog dengan para pemilihnya. Acapkali, secara berkelakar, para konstituen mengira Yayuk sudah melupakannya. Dan selalu saja, ia akan sontak menjawab hal tersebut dengan logat khas Jawa Timurnya.
“Emangnya saya amnesia? Nda akan lupa dong,” ujarnya.
Beragam tingkah dan polah yang aneh sering dia dapati dari konstituen. Satu di antaranya ada yang sering meminta pulsa kepada Yayuk. Lalu tanpa ilir angin-angin dia langsung menimpali, “Emangnya saya konter, tuku dewe ae merono (Emangnya saya konter, beli sendiri saja sana).”
Yayuk berpandangan, tugasnya turun ke dapil adalah untuk menjalankan peran-peran legislasi yang dia emban sebagai anggota DPR. Dalam kesempatan semacam itu, dia punya banyak kesempatan untuk bertukar pikiran dan pengalaman dengan konstituennya. Yang paling dihindarinya adalah digunakannya kesempatan tersebut menjadi ajang konstituen meminta imbalan atas jasa.
Prinsip yang dia pegang adalah, dia akan tetap berkomitmen dengan para konstituen, tapi komitmen itu melekat pada tugasnya selaku anggota dewa. Dalam kerangka itu, Yayuk mengaku tak jarang bersikap galak terhadap tim dan para pemilihnya.
Dia menegaskan akan terus merawat komitmennya dalam memperjuangkan hak-hak warga pemilih. Kebijakan-kebijakan di bidang pendidikan, olahraga, kesenian, dan pariwisata, adalah bidang yang akan terus dia kawal dan selaraskan dengan aspirasi arus bawah di dapilnya.
Dan bagi Yayuk, dalam dua minggu ke depan, cerita masih akan berlanjut dengan berbagai roman dari dapilnya.