65KURTUBI1.jpg

Kurtubi: Pertalite Menjadi Solusi Pengganti Premium

Share with:


Jakarta – Pertamina melakukan uji pasar bahan bakar minyak jenis Pertalite atau RON 90 yang yang diklaim lebih hemat dan ramah lingkungan dibandingkan jenis Premium. Uji pasar terhadap produk baru Pertamina ini dilakukan sampai bulan September dengan harga perdana Rp 8.400. Setelah itu, harga Pertalite akan disesuaikan dengan harga pasar. Pertalite hingga saat ini dapat ditemukan di 68 SPBU di Jakarta, Bandung, Surabaya,dan jalur tol wilayah Jawa bagian barat.

Anggota Komisi VII DPR, Kurtubi mengatakan sebelumnya pemerintah hendak menghapus BBM jenis premium. Selain karena angka oktan yang masih rendah, rencana penghapusan merupakan bagian dari reformasi tim tata kelola migas. Pengadaan Premium disinyalir penuh dengan permainan. Bahan bakar dengan angka oktan 88 juga sudah tidak digunakan lagi di dunia. Hanya tersisa beberapa negara di Asia Tenggra yang masih menggunakannya. Kurtubi mengapresiasi langkah pemerintah untuk menambah varian BBM dengan jenis Pertalite ini.

Politisi Partai NasDem ini sebelumnya tidak setuju jika Premium dihapus total demi mendorong masyarakat menggunakan Pertamax. Namun dengan adanya varian Pertalite, Kurtubi melihat hal ini sebagai solusi, karena lebih berkualitas dibandingkan Premium, dengan harga di bahwa Pertamax.

“Lagipula angka oktan (Pertalite) merupakan angka minimal yang sangat sesuai dengan mesin kendaraan yang ada di Indonesia,” jelasnya.

Namun ia menyayangkan masih tingginya angka impor minyak Indonesia. “Lebih 60 persen dari BBM kita harus impor, menyedihkan dan memalukan. Negara sudah dikenal sebagai produsen minyak, namun gagal membangun kilang-kilang minyak baru, juga gagal menambah kapasitas kilang. Di satu sisi konsumsi meningkat terus. Sebagai bangsa, kita ini gagal mengelola perminyakan kita,” sesalnya.

Kurtubi menyebutkan sebagian besar komponen bahan bakar minyak masih diimpor, baik Premium, Pertamax, maupun Pertalite. Dengan harga minyak dunia yang saat ini relatif rendah, Premium pada hakikatnya tidak disubsidi lagi. Hanya saja jika harga minyak dunia kembali naik dan harga Premium tetap, maka pemerintah perlu mengucurkan subsidi lagi.

“Namun jika konsumen Premium dapat berpindah ke Pertalite, maka dengan sendirinya beban pemerintah untuk menyubsidi BBM dapat berkurang,”terangnya.   

Kurtubi berharap pemerintah dapat memberikan bahan bakar yang lebih berkualitas kepada masyarakat, bukan malah bahan bakar yang sudah ditinggalkan oleh konsumen dunia, seperti RON 88. Ia juga memberikan catatan terkait impor minyak agar mempertimbangkan daya beli masyarakat di dalam negeri.  

Penggunaan Pertalite juga ditujukan agar bahan bakar fosil yang digunakan di Indonesia dapat lebih ramah lingkungan. Namun Kurtubi mendesak pmerintah agar segera membangun infrakstruktur Bahan Bakar Gas (BBG), supaya dapat dikonsumsi lebih luas oleh rakyat. Sehingga nantinya, masyarakat dapat tambah mandiri di bidang energi, juga mendapatkan kualitas energi yang lebih baik.