31Zulfan1.jpg

Fraksi NasDem: Koperasi Harus Direvolusi!

Share with:


Jakarta – Koperasi, BUMN serta swasta merupakan soko guru bagi perekonomian Indonesia saat ini. Namun faktanya, koperasi tengah berada pada posisi terjepit. Anggota Fraksi NasDem, Zulfan Lindan dalam Rapat Kerja Komisi VI dengan Menteri Koperasi dan UKM dan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Rabu (10/6) angkat bicara mengenai permasalahan ini. Ia menilai bahwa koperasi saat ini tidak hanya sekedar direformasi dan direvitalisasi, akan tetapi harus direvolusi. Hal ini karena persaingan sudah semakin ketat ditengah menjamurnya mini market modern.

 “Kalau memang ada peluang untuk membangun koperasi ini untuk menjadi lebih besar dengan lembaga bisnisnya, kita akan support. Kalau perlu BUMN bersama swata nasional diajak melakukan investasi atau kerjasama dan jika tidak tertarik kita bisa menggunakan investasi dari luar,” tegas Zulfan.

Dia kemudian membandingkan dengan keadaan koperasi di luar negeri yang kontras dengan di Indonesia. “Diluar negeri koperasi bisa itu besar karena investasinya juga besar, kalau begini sepertinya  hidup segan mati ngak mau,” ungkapnya.

Anggota DPR dapil Aceh ini menambahkan bahwa koperasi ada karena diatur didalam konstitusi. Oleh karena itu keberadaannya menjadi jelas karena ada kerangka hukumnya. Koperasi juga tidak boleh dipandang secara normatif, akan tetapi harus pula disertai dengan langkah kongkrit. Koperasi harus dibangun untuk menjadi kekuatan ekonomi yang benar–benar bisa menumpang ekonomi rakyat dengan semangat one man one share sesuai dengan konsepnya yang berbeda dengan swasta.   

“Lakukan perbandingan keluar negeri, bikin konsep yang jelas tetang koperasi. Setelah itu kita tawarkan kepada investor untuk menanamkan investasinya karena kita mempunyai cukup lahan untuk membentuk koperasi peternakan yang besar,” kata Zulfan.

Zulfan juga mengajak agar tidak melihat isu koperasi untuk menghadapi liberalisme. Sebab jika ia dipanyungi oleh undang-undang yang kokoh maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Dia kemudian membandingkan dengan Tiongkok dan Rusia. Meskipun kapitalismenya tumbuh pesat, sistem pemerintahan sosialisnya tetap terjaga karena aturan mainnya jelas.

“Akan tetapi undang-undang kita membuka tanpa aturan dan kontrol yang jelas walaupun dibungkus dengan ideologi Pancasila, kita akan tetap hancur,” tegasnya.

Ia mengaku pernah mendatangi pengolahan susu di Malang Jawa Timur yang sudah tutup. Menurut pengamatannya, pada saat produksi susu melimpah, para peternak tidak mengetahui hasil panennya akan diolah seperti apa. Yang kemudian menjadi problem adalah susu kaleng impor merebak di pasar lokal. Pada saat yang sama kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hal ini dianggap Zulfan sebagai fenomena aneh mengingat Indonesia sebagai negara agraris mempunyai lahan begitu luas.

Oleh karena itu dia mengajak agar ada paradigma baru terhadap keberadaan koperasi di Indonesia. Koperasi menurutnya harus melakukan inovasi-inovasi.

“Jangan kita terkukung dengan pola sekarang dimana koperasi dengan infrastrukturnya yang sampai ke daerah hanya mengharapkan penditribusian pupuk, dan ini cara-cara yang sangat konvensional dan kuno, saya menganggap ini tidak ada perubahan,” tegas Zulfan.