97DSC_18301.jpg

Marak Perdagangan Satwa Liar, Fraksi NasDem Dukung Revisi UU Konservasi

Share with:


Rencana pemerintah mengajukan usulan revisi UU Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Nomor 5 Tahun 1990, disambut positif oleh Anggota Fraksi NasDem Komisi IV, Fadholi.

Menurutnya, SDA perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari untuk kesejahteraan Indonesia. Lebih lanjut Fadholi berharap dengan revisi UU konservasi ini, satwa langka dapat terlindungi dari kepunahan dan maraknya perdagangan satwa langka.

Kapoksi Komisi IV DPR Fraksi NasDem ini mendukung usul revisi UU yang diusung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Memang perlu ada revisi UU tersebut agar dapat menjadi payung hukum bagi kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan untuk menindak tegas pelaku kejahatan terhadap satwa langka” tegas Fadholi saat dihubungi media center di sela-sela Raker Komisi IV dengan Kementerian LH dan Kehutanan di Gedung Kura-kura, Senayan, Senin, (25/05)

Legislator dapil Jateng I, Fadholi, juga menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam perlindungan satwa langka.

“Peran serta masyarakat dalam perlindungan satwa sangat penting. Setidaknya untuk dapat melaporkan setiap upaya perburuan hewan langka. Dengan adanya laporan dari masyarakat dapat dilakukan penindakan lebih jauh untuk mencegah meluasnya kejahatan wildlife crime”, imbuhnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dalam raker dengan komisi IV menyebutkan bahwa potensi keanekaragamaan spesies di Indonesia sebanyak 47.910 jenis. Di antaranya, 236 spesies adalah jenis satwa liar yang dilindungi. Mengutip laporan Species Survival Commission, Siti Nurbaya menyebutkan empat dari 100 satwa liar yang terancam punah di dunia, berada di Indonesia.

Menteri Siti Nurbaya, menegaskan saat ini Indonesia menjadi salah satu sumber dalam perdagangan tumbuhan dan satwa langka di Asia baik legal maupun illegal. “Dalam rute penyelundupan, Indonesia juga menjadi titik transit penting dalam pedagang illegal tumbuhan dan satwa langka dari Afrika ke Asia Timur, contohnya dalam perdagangan gading gajah Afrika”, ujarnya.

Indonesia, terang Siti Nurbaya, saat ini menjadi salah satu negara sumber dalam perdagangan tumbuhan dan satwa langka di dunia. “Dalam rute penyeludupan, Indonesia juga menjadi titik transit penting bagi para pedagang illegal tumbuhan dan satwa langka dari Afrika ke Asia Timur, contohnya dalam perdagangan gading gajah Afrika”, ujarnya.

Kondisi yang memprihatikan tersebut melandasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk merevisi UU No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Hal ini menurutnya, dalam rangka meningkatkan upaya penegakan dan penindakan hukum secara tegas terhadap pelaku kejahatan perburuan satwa langka (wildlife crime).

“Perlu dilakukan penyempurnaan (revisi) terhadap UU No. 5 Tahun 1990, khususnya dalam hal kewenangan (penangkapan dan penahanan) bagi petugas kehutanan, pengkategorian spesies, perlindungan habitat, perlindungan sumber daya genetik dan sanksi hukum terhadap pelaku” terangnya. Siti Nurbaya berharap agar UU ini dapat direvisi dan dapat dimasukkan dalam prolegnas tahun ini (2015).