12IMG_44441.jpg

Bersama Media Kritis Menjaga Kredibilitas

Share with:


Ada yang tak biasa sore itu, di halaman gedung baru Tempo Inti Media, Jalan Palmerah Barat 8, Jakarta Barat. Sebuah bus berwarna putih kombinasi garis merah muda dengan logo DPR RI di dindingnya, berhenti tepat di depan pintu utama. Ya, bus itu datang membawa rombongan DPR RI dari Fraksi NasDem dalam rangka kunjungan yang difasilitasi oleh Media Center Fraksi NasDem (MCFN). 

Sebagaimana diakui oleh awak redaksi Tempo sendiri, itulah kali pertama legislator dari Fraksi NasDem datang sengaja ke gedung baru itu serombongan. Maklum, Fraksi NasDem perwakilan partai baru di Senayan. Jadi, tak heran jika saat itu adalah kunjungan pertama kali mereka ke Tempo pada Selasa (26/5) lalu.  

Mewakili Fraksi NasDem, Anggota Komisi XI, Jhonny G. Plate membuka forum diskusi seraya memperkenalkan dua orang punggawa MCFN, Joice Triatman dan Virgie Baker, yang diterangkannya telah berandil besar menyukseskan acara tersebut. Hadir mewakili Tempo saat itu di antaranya, Qaris Tadjudin (Redaktur Utama), Anton Aprianto (Redaktur), dan Rusman Paraqbueq (Staf Redaksi). 

Selain Jhonny, Anggota Fraksi NasDem lainnya yang turut serta dalam kegiatan itu di antaranya, Nyat Kadir (Komisi VI), Tamanuri (Komisi II), Akbar Faisal (Komisi III), Doni Imam Priambodo (Komisi XI), Try Murni (Komisi VIII), Amelia Anggraini (Komisi IX), Ali Mahir (Komisi IX), dan Yayuk Sri Rahayu Ningsih (Komisi X).

Jhonny mengatakan bahwa Fraksi NasDem adalah fraksi yang baru di DPR RI. Dengan menyandang tag line Restorasi Indonesia, ungkap Jhonny, Partai NasDem dalam mewujudkan cita-cita kebangsaan, tentulah memerlukan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak. Salah satunya, media sebagai pilar keempat demokrasi. 

Selaku partai pro pemerintah, Jhonny menyebutkan NasDem memikul tugas besar untuk mengomunikasikan peranannya kepada publik dalam mendukung Presiden Jokowi-JK. Namun, demi restorasi Indonesia, pada saat yang sama juga mengambil posisi kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

“Kami percaya Tempo salah satu media di Indonesia yang sangat kritis, namun tentu untuk tujuan yang baik. Kritikan sebenarnya adalah dukungan yang diperlukan bagi pemerintah untuk menyukseskan program pembangunannya,” ujar politisi kelahiran Ruteng, Nusa Tenggara Timur, 57 yang silam itu.

Saat ini, terang Jhonny, DPR RI sedang berkonsentrasi untuk persiapan program pemerintahan Jokowi yang pertama kali diterjemahkan dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara 2016. Fraksi-fraksi memberikan pandangan terhadap RAPBN 2016 itu.

Dalam rapat paripurna itu, Jhonny sendiri tampil mengemukakan pandangan mewakili Fraksi NasDem. Ia menjelaskan tekanan pembangunan masih pada titik-titik yang berbeda. Meski begitu, Jhonny mengapresiasi rencana pemerintah untuk mengalihkan rezim konsumsi menuju rezim yang hendak mengutamakan alokasi anggarannya untuk pembiayaan infrastruktur. Rezim Kosumsi istilah Jhonny, mengacu kepada pemerintahan yang masih memakai subsidi tinggi. Sedangkan pemerintahan saat ini, tampak jelas dalam pokok-pokok APBN 2016 menyasar pada pembangunan infrastruktur. 

Nah, menurut Kapoksi Komisi XI Fraksi NasDem ini, rencana pemerintah tersebut sudah sejalan dengan pandangan Fraksi NasDem terhadap APBN-P 2015. Menurut pandangan Fraksi NasDem, dengan tersedianya infrastruktur yang memadai, dapat membuka partisipasi publik yang lebih aktif. Hal ini dapat memperbaiki gini ratio menjadi 0,40 % sesuai dengan target pembangunan APBNP 2015, sambungnya.

Karenanya, saat menanggapi pertanyaan Anton Apriantono soal prioritas NasDem, Jhonny menekankan kembali bahwa RAPBN 2016 adalah yang utama. Jhonny melihat dalam bulan ke depan pembahasan RAPBN 2016 akan kian menghangat.

Prioritas yang kedua, kata Jhonny, ada beberapa isu-isu strategis baik secara makro maupun mikro yang menjadi perhatian NasDem terkait ekonomi dari sisi prolegnas. Ada beberapa revisi Undang Undang yang menjadi fokus, di antaranya RUU Bank Indonesia, RUU Perbankan, RUU inisiatif DPR tentang Pengampunan Pajak (Tax Amnesty).

Terkait Komisi II, ungkap Jhonny, isu hangat yang juga jadi perhatian Fraksi NasDem adalah revisi UU Pilkada. “Kita menolak revisi UU Pilkada, karena kita belum mendapatkan argumentasi yang kuat untuk menerima revisi UU tersebut. Baik dari persyaratannya secara yuridis maupun sosiologis. Kita belum melihat itu,” tegasnya.

Syarif Alkadrie, legislator dari Kalimantan Barat tiba-tiba memotong. “Komisi dua ini bidang saya,” sahutnya sembari tergelak. Ia melanjutkan, jika revisi UU Pilkada ini jadi alat bargaining, Fraksi NasDem melihat, tidak akan melakukan tawar menawar yang akan mengorbankan kepentingan publik. 

Menanggapi komentar kritis awak Tempo tentang sikap NasDem terhadap partai koalisinya, sambil bercanda Akbar Faisal menyampaikan ungkapan bahwa Tempo itu adalah “lawan yang tangguh”. “Jadi kalau Anda sebagai politisi, tapi kalau belum dimuat Tempo, berarti Anda belumlah politisi yang tangguh,” tambahnya disambut tawa seisi ruangan. 

Akbar mengatakan Tempo itu sahabat dekat yang dirindukan. “Di Tempo itu ada batasan yang tegas, antara redaksi dan iklan. Jangan berpikir kalau Anda membayar iklan 20 halaman, maka berita Anda dimuat, tidak ada cerita itu. Itulah kelebihan Tempo, sehingga media ini bisa menjaga kredibilitas. Sehingga kita menghormati media ini,” puji Akbar yang juga sempat menjadi pewarta ini.