98Seminar1.jpg

Peran Kunci Perempuan, Penyelamat Generasi Dari Narkoba

Share with:


Jakarta – Negeri darurat narkoba, demikian seringkali sebutan yang menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Sudah tak terhingga lagi banyaknya kasus narkoba yang mencuat ke publik, dengan temuan BNN dan kepolisian membuat kejutan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran semua pihak, dan yang harus semakin waspada adalah keluarga.

Demikian halnya yang dipaparkan Sekretaris Fraksi NasDem MPR, Fadholi, sebagai kata sambutan dalam seminar yang bertajuk “Peran Perempuan Dalam Penyelamatan Bangsa Dari Narkoba Untuk Mempertahankan Ketahanan Nasional”, pada Rabu siang (20/05) di Ballroom Hotel Kartika Chandra. Diinisiasi oleh MPR RI, seminar itu turut disukseskan oleh Fraksi NasDem.

Lebih lanjut Fadholi mengungkapkan penyelesaian problem narkoba ini tak hanya dengan pemberantasan, tapi juga tindakan pencegahan. “Mendesak dipikirkan penyelesaiannya, jika tidak, hanya akan menjadi ancaman bagi masa depan bangsa ini. Karena hanya dengan generasi yang sehat, Indonesia mampu menjadi negara maju,” tandasnya.

Perempuan, Tokoh Kunci Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

Sekretaris Jenderal Partai NasDem yang juga anggota Komisi III DPR, Patrice Rio Capella melihat peran penting kaum perempuan sebagai kunci pencegahan perilaku penyalahgunaan narkoba. “Saya sangat yakin, jika perempuan jauh dari narkoba maka dapat dipastikan laki-laki pun akan jauh dari narkoba, terlebih lagi anak-anaknya,” jelasnya.

Kajian yang menyebutkan adanya hubungan peran perempuan dan penciptaan generasi berkualitas telah banyak diketahui. Namun peran perempuan untuk pencegahan perilaku penyimpangan dan penyalahgunaan narkoba merupakan sudut pandang yang harus ditumbuhkembangkan dalammasyarakat.

Senada dengan Rio, Mantan Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN), Benny J Mamoto mengatakan perempuan memiliki peran penting untuk menyelesaikan permasalahan narkoba di tanah air. Ia menegaskan perlunya pemahaman oleh perempuan atas perannya sebagai ibu bagi keluarga. Apalagi jika anaknya menjadi korban narkoba.

“Ini bukanlah aib yang harus ditutupi. Korban narkoba harus dipandang seperti korban kecelakaan lalu lintas yang harus ditolong bersama-sama.Kesadaran ibu harus tinggi untuk menuntun anaknya agar direhabilitasi,” ujarnya.

Rio percaya bahwa menuntaskan persoalan bangsa semendesak narkoba ini tak bisa dilakukan secara parsial. “Perlu keterlibatan banyak pihak, untuk mengurangi potensi penyalahgunaan narkoba. Langkah pencegahan perlu dilakukan sejak dini. Terutama dimulai dari pengetahuan ibu sebagai pendidik pertama bagi anak di keluarga. Itulah mengapa perempuan disebut sebagai tiang negara,” terang politisi asal Bengkulu ini.

Rumah, Asal Motivasi Penyalahgunaan Narkoba

Psikolog Diennaryati Tjokrosuprihatono, mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa 71 persen penyalahguna narkoba, berasal dari rumah. Maksudnya, kondisi rumah tangga, adanya keharmonisan dan kasih sayang menjadi determinan penting dalam kecenderungan penyalahgunaan narkoba. “Di sinilah peran perempuan menjadi sangat penting, karena ia menjadi ibu bagi keluarga dan masyarakat,” tegas dosen Fakultas Psikologi UI ini.

Sedangkan 29 persen sisanya, pengaruh biasanya didapat dari lingkungan yang buruk, prostitusi, realitas sosial (penyakit masyarakat), dan penetrasi pengedar. Tingginya persentase penyalahgunaan narkoba yang dimotivasi oleh kondisi di rumah atau keluarga, juga menuntut penyelesaian yang berasal dari rumah.

“Kecenderungan ‘investasi’ para pengedar narkoba saat ini sudah beralih, targetnya sekarang anak-anak. Ya, dengan berbagai cara, lihat saja sudah banyak narkoba dalam bentuk permen, kue, bahkan kertas puzzle,” paparnya miris. Investasi yang dimaksud adalah menjaring pemakai narkoba sejakdini, agar terikat dan menjadi kecanduan. Ujungnya, mendorong pemakai narkoba rela jadi penyelundup dan pengedar.

Psikolog yang kerap disapa Dini ini menekankan bahwa narkoba ini adalah  penjajahan gaya baru yang merusak generasi penerus bangsa Indonesia. Ia kemudian menyebutkan angka 4,9 juta pengguna narkoba di Indonesia saat ini. Namun angka ini bak fakta gunung es.

Narkoba, Penjajahan Gaya Baru

Benny J Mamoto mengamini pernyataan Diennaryati. Narkoba memang ancaman serius bangsa dan negara Indonesia. Ia membandingkan apa yang terjadi di Tiongkok saat Inggris menggelontorkan candu, sebelum mengirimkan pasukan untuk menginvasi negeri tirai bambu itu. Dengan candu tersebut, negeri sebesar Tiongkok pun lumpuh lalu dijajah Inggris. Dan peristiwa ini kemudian dikenal dengan Perang Candu.

“Coba kita renungkan, kecanggihan (teknologi bandara-red) Singapura begitu canggih, namun mengapa pengedar dan kurir yang singgah di sana bisa bebas terbang, dan masuk ke Indonesia dan tertangkap di sini?” ungkapnya bertanya. Begitu pula dengan Malaysia yang menerapkan hukuman mati bagi pengedar narkoba, namun dari bandaranya tetap ada bandar narkoba yang lolos dan akhirnya masuk ke Indonesia.

Tenaga Ahli Bidang Hukum dan Perundang-Undangan BNN ini mempertanyakan situasi ini, karena tak sedikit pengedar narkoba yang tertangkap di bandara di Indonesia, meskipun sebelumnya telah transit di negara tetangga.

Tak hanya itu, beragam simbiosis mutualisme terbangun dari jaringan kejahatan narkoba dengan berbagai bentuk kejahatan lainnya: penyelundupan orang, penjualan senjata ilegal, kejahatan sibernetik, pencucian uang, hingga terorisme. Bahkan, ia membeberkan data yang mengejutkan, yakni sekitar 85 persen pendanaan aksi terorisme merupakan donor dari hasil transaksi narkoba.

Benny mengambil contoh kasus Fadli Sadama yang tertangkap di Malaysia setelah kabur dari LP Tanjung Gusta. Hal ini menunjukkan salah satu contohnecroterorism, yakni terorisme yang pendanaannya disokong dengan uang hasil transaksi narkoba. Sadama menyelundupkan shabu ke Medan, dan hasil penjualannya dipergunakan untuk membeli senjata ilegal di Thailand Selatan, yang digunakan di Aceh dan Medan sebagai alat teror.