14Pake1.jpg

Daya Serap Bulog Rendah, Fadholi minta Revisi HPP

Share with:


Jakarta – Anggota Komisi IV DPR, Fadholi mendesak perlunya melakukan revisi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk mengatasi terbatasnya kemampuan Bulog menyerap hasil panen petani. Apalagi, di tengah situasi lonjakan harga beras di tingkat konsumen saat ini. 

“Kecendrungan petani yang lebih memilih menjual hasil panennya ke pihak swasta disebabkan harga beli Bulog belum memberi keuntungan yang layak. Karenanya, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk merevisi kembali HPP yang ditetapkan oleh Inpres Nomor 5 Tahun 2015,” kata legislator NasDem dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah I itu. 

Menurutnya lagi, banyak variable yang harus diselaraskan untuk revisi HPP. Tidak hanya cost produksi, produktivitas lahan dan keuntungan petani juga harus dipertimbangkan. 

Fadholi mengatakan, Harga HPP beras dan gabah yang diterapkan bulog mungkin menguntungkan bagi petani yang punya 1 Ha lahan dengan produksi 8-9 ton beras. Tapi, sambungnya, tidak demikian halnya bagi yang hanya mampu memproduksi 5 ton beras.

Dalam resesnya di Semarang kemarin, Fadholi mengakui telah menjumpai sejumlah kelompok tani yang mengeluhkan rendahnya harga beli Bulog di saat panen. Sementara, ongkos produksi yang dikeluarkan petani meningkat.

Di sisi lain, adanya wacana impor jelang bulan ramadhan, menurut Fadholi seharusnya tak perlu dikhawatirkan. “Hampir di banyak tempat di Indonesia saat ini sedang panen, yang terpenting bagaimana pemerintah dapat menyerap hasil panen,” tandasnya.

Namun, kenyataannya, kenaikan harga beras di pasar saat ini, ternyata tidak menjamin keuntungan yang diperoleh oleh petani. Dalam kondisi seperti inilah, terang Fadholi, peran penting Bulog untuk menstabilkan harga. Selain itu, ia mengingatkan perlunya peran distribusi Bulog, untuk mengantisipasi pihak yang menimbun beras

Fadholi menegaskan Bulog semestinya menerapkan sistem sirkulasi stok yang dapat menjamin kualitas beras tetap baik. Hal ini dimaksudkan agar beras Bulog dapat dikonsumsi masyarakat. “Yang ada di gudang jangan terlalu lama, maksimal dari hasil 2 musim panen. Di saat panen ketiga maka stok dari panen pertama yang dilepas ke pasar,” paparnya.

Fadholi juga menekankan perlunya pemerintah untuk melindungi harga petani. “Bulog membeli hasil panen dengan harga yang tinggi dari petani dan menjualnya dengan harga murah di tingkat konsumen, dengan begitu harga petani terlindungi,” ujarnya.

Politisi NasDem kelahiran Salatiga ini juga menyampaikan bahwa “pekerjaan rumah” pemerintah bukan hanya soal revisi HPP untuk dapat mencapai kemandirian pangan. Lebih dari itu, pemerintah pun perlu mendorong peningkatan produksi pangan.

Bantuan alat dan mesin pertanian, perbaikan irigasi, teknologi, serta bibit, dikatakannya penting untuk mendorong produktivitas pertanian. Dan akhirnya yang tak kalah penting menurutnya adalah menumbuhkan kembali semangat pemuda untuk mau bertani.