14TRIMURNI1.jpg

Tri Murny: Empat Pilar Kebangsaan Sebagai Terjemahan Fitrah Manusia

Share with:


Pandeglang – Gedung PKPRI Pandeglang siang itu padat oleh pemuda Karang Taruna, mahasiswa, dan akademisi. Hari Rabu tanggal 6 Mei 2015 lalu, Anggota Fraksi NasDem DPR, Tri Murny, mengadakan pertemuan dalam rangka reses bersama masyarakat Pandeglang. Reses ketiga yang telah dijalaninya kali ini, lebih menyoroti nasionalisme di kalangan anak muda.

Turut hadir pula Sekretaris Daerah Kab. Pandeglang Aah Wahid Maulany, dan sejumlah SKPD, tokoh agama dan tokoh masyarakat Pandeglang. Aah Wahid menyambut baik forum ini. Ia menilai pemaknaan ideologi Pancasila dan rasa nasionalisme menjadi tantangan bagi generasi muda. “Terlebih lagi di era globalisasi sekarang,” jelasnya.

Tri Murny dalam sambutannya menyebutkan Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki peluang yang besar, sekaligus juga dengan tantangan yang besar. “Indonesia dibangun dengan konsep integrasi, negara integralistik. Oleh karenanya, walaupun tak satu daratan, beda suku dan agama, seharusnya konsep negara kesatuan wajib menjadi pijakan dasar,” tegasnya.

Anggota Komisi VIII DPR ini mengharapkan generasi muda untuk mampu menerjemahkan semangat Pancasila menjadi perspektif warga negara. “Apalagi anak muda, dengan derasnya terpaan informasi memudahkan segala bentuk ideologi masuk ke Indonesia. Karena itulah penting pemahaman pilar kebangsaan. Anak muda adalah penerus bangsa ini. Jika pemahaman ini mulai luntur, kita tak akan tahu masa depan Indonesia dan Pancasila apakah dapat bertahan,” seru politisi berjilbab ini.

Dalam kegiatan reses ini, Tri Murny tidak sebagai pembicara tunggal untuk mengelaborasi perihal Pancasila dan konsep empat pilar. Dalam kesempatan ini, turut hadir  Prof Zainuddin Maliki dan Dr Hidayat Mustafid yang membahas persatuan dalam perspektif Islam. Zainuddin menyoroti kohesi sosial masyarakat Indonesia belum kokoh, “Jika mau berkata jujur, kita bisa melihat bahwa kohesi sosial masih rapuh. Misalnya saja, persoalan yang awalnya adalah konflik sosial ekonomi, dapat saja merembet menjadi konflik kesukuan. Nah, kita harus arif dalam menilai suatu keadaaan.”

Hidayat Mustafid yang juga dosen perguruan tinggi agama Islam di Pandeglang menyambung pernyataan Zainudin. Ia menegaskan bahwa manusia yang memiliki naluri hidup bersama atau yang dalam Islam disebut sebagai fitrah ijtimaiyyah. Inilah yang menjadi titik tolak bangsa Indonesia agar bisa memperkokoh kebersamaan, kesatuan, dan persatuan. “Hidup berbeda dan bersuku-suku adalah fitrah manusia, bahkan sudah ditegaskan di dalam Al-Quran. Sehingga konsep empat pilar kebangsaan seharusnya bukan aturan yang asing bagi kita manusia, karena di dalamnya menegaskan semangat toleransi dan persatuan,” papar dosen lulusan universitas di Timur Tengah ini.

Empat konsensus kehidupan berbangsa ibarat sebuah aliran sungai yang diharapkan dapat bermuara pada masyarakat yang bermartabat. Karena peradaban manusia dan bangsa dinilai dari cara kita menghargai kodrat sebagai manusia yang berpikir dan bermasyarakat. Tri Murny menekankan bahwa ia memikul tanggung jawab besar sebagai perwakilan rakyat untuk bisa menyampaikan pesan persatuan. “Agar indahnya gambaran toleransi dalam empat pilar tidak hanya cantik di dokumen tapi jauh dari kehidupan nyata. Ini pula menjadi amanat undang-undang,” paparnya.