64ALI-MAHIR1.jpg

Ali Mahir: Kualitas Tenaga Kesehatan Indonesia Harus Siap Hadapi MEA

Share with:


Jakarta – Tak hanya dunia usaha yang harus bersiap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada akhir tahun 2015 ini. “Tenaga kesehatan seperti perawat pun harus mempersiapkan diri menghadapi persaingan global yang segera menjelang,” ujar Ali Mahir, anggota Fraksi NasDem dari Komisi IX ini. Ali juga menyebutkan bahwa hal tersebut telah disampaikannya dalam RDP Komisi IX dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pada 22 April lalu.

Dalam persiapan reses III DPR-RI beberapa waktu lalu, Ali Mahir menegaskan bahwa kualitas tenaga kesehatan Indonesia tertinggal dibandingkan Filipina atau India. “Hal yang paling jelas adalah kemampuan bahasa asing. Dalam MEA nanti, akan banyak pengiriman tenaga ahli ke beberapa negara. Nah, kekurangan dari perawat kita adalah tak mampu berbahasa Inggris dengan baik,” sesalnya.

Ia mencontohkan bagaimana tenaga asing dari India dipekerjakan di RS Mount Elizabeth Singapura, “Tentu bukan soal kualitas kemampuan kerja saja, tetapi juga mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional. Inilah yang harus dipersiapkan segera oleh tenaga kesehatan kita agar mampu bersaing.”

Ali percaya bahwa kemampuan perawat dan tenaga kesehatan Indonesia tak kalah dari luar negeri. Permintaan luar negeri untuk tenaga di bidang kesehatan cukup besar dan sangat menjanjikan. Hal ini tercermin dari laporan PPNI tentang perkiraan permintaan tenaga perawat pada tahun 2014 berjumlah 9.280 ribu, nantinya pada tahun 2019 berjumlah 13.100 ribu, dan pada tahun 2025 berjumlah  16.920 ribu. “Untuk itulah, kita harus memenuhi permintaan tersebut dengan adanya peningkatan kualitas tenaga perawat dan juga adanya pendidikan persiapan di balai pelatihan  berkaitan dengan negara yang akan dituju,” terangnya.

Namun Ali mengingatkan bahwa, kebutuhan tenaga kesehatan di dalam negeri harusnya menjadi prioritas.  Dari data PPNI yang bersumber dari Kemenkes RI tahun 2013, tercatat jumlah tenaga perawat di Indonesia berkisar 288.405. Dan lebih 50 ribu perawat swasta dan 11.003 orang perawat honorer dan tenaga sukarela. Ali menyatakan jumlah tersebut belum sebanding dengan jumlah penduduk, “Jadi dengan penduduk Indonesia yang hampir 253 juta jiwa ini, maka tenaga perawat yang ada belum mencukupi. Terlebih lagi untuk kebutuhan di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.”

Ali berkomitmen untuk dalam masa sidang setelah reses III ini, akan ada Panja untuk menindaklanjuti program ‘Indonesia Sehat’ yang dicanangkan Pemerintah. “Persoalan perawat yang mengabdi di daerah terpencil dan belum diperhatikan kesejahteraannya, padahal mereka mengabdi. Maka nantinya akan kita bahas di Panja agar ada mekanisme fasilitas yang layak bagi mereka. Karena kehadiran perawat adalah salah satu kunci keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat,” jelasnya. Untuk itu, agar perawat dapat berkontribusi mewujudkan ‘Indonesia Sehat’ juga dapat bersaing di tingkat global, Ali Mahir mengharapkan implementasi UU No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan dapat maksimal karena sudah dilindungi secara hukum. (MCNasDem)