67HAMDANI-3.jpg

Hamdhani: Negara KAA Akan Mengawasi Kesewenang-wenangan Israel Atas Palestina

Share with:


Konferensi Parlemen Asia Afrika yang dibuka di Ruang Sidang Paripurna 1 DPR-RI, Kamis (23/04) ini sungguh kental nuansa dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Mewakili parlemen Indonesia, dua anggota Fraksi NasDem menyampaikan sikap Indonesia dan dukungan terhadap Presiden RI atas gugatan terhadap PBB menyangkut Palestina. Hamdhani, kapok BKSAP Fraksi NasDem menyebutkan momentum KAA jangan disia-siakan, ”Saatnya persoalan kemerdekaan Palestina ini mendapatkan dukungan yang penuh dari dunia, tidak hanya sebatas konferensi ini saja, tetapi akan didesak untuk dibahas di PBB,” tegasnya.

Bagi Hamdhani, KAA ini adalah forum kerjasama dan kolaborasi yang kongkrit untuk menunjukkan solidaritas kemanusiaan. Ia juga mengakui bahwa keberanian Presiden Joko Widodo yang menyampaikan kritikannya pada PBB dalam forum internasional. “Parlemen siap mendukung presiden agar Indonesia dapat kembali menjadi pemain utama dalam memperjuangkan persamaan derajat dan penghapusan penjajahan di dunia, selayaknya zaman Bung Karno dulu,” ujarnya optimis.

Dalam sesi penyampaian pendapat di Konferensi Parlemen Asia Afrika tersebut memang ada sesi khusus pembahasan tentang Palestina, di ruang Puspaloka, gedung Nusantara IV. Sesi yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah ini mengundang perwakilan negara untuk menyatakan komitmen dukungannya terhadap Palestina. Dan sesi tersebut berakhir dengan pidato perwakilan Palestina yang mengapresiasi seluruh dukungan negara-negara Asia Afrika atas rencana deklarasi kemerdekaan negaranya.

Hamdhani melihat bahwa posisi PBB saat ini masih belum maksimal. “Dewan Keamanan PBB belum mampu secara seimbang menyikapi perdamaian di kawasan, karena di PBB saja ada konflik kepentingan. Sehingga persoalan konflik negara-negara di Timur Tengah, persoalan ISIS lama-lama menjadi preseden buruk bagi perdamaian dan keamanan dunia,” sesalnya.

Amelia Anggraini, anggota BKSAP juga menyampaikan dalam pidatonya bahwa Palestina dan Israel harus bisa hidup berdampingan dengan Palestina yang berdaulat dan damai. Dengan adanya forum parlemen KAA dan pembahasan spesifik Palestina, dapat memperkuat alasan dukungan ini diimplementasikan ke dalam kebijakan di masing-masing negara anggota. “Negara KAA ini harus dapat berkelanjutan memantau Israel, kita harus dapat mengawasi kesewenang-wenanngan yang dilakukan Israel atas masyarakat Palestina,” tegasnya.

“Dengan gagasan solidaritas ini, tidak hanya G to G tapi juga parlemen ke parlemen. Dari pertemuan ini akan ada pertemuan lanjutan untuk menyusunaction plan sehingga dapat diwujudkan dalam regulasi. Keterlibatan parlemen memang harus ada, karena segala kebijakan negara juga dibahas melalui parlemen. Maka, rekomendasi KAA ini tidak hanya akan berakhir di atas kertas, tapi ada tindak lanjut. Inilah tujuan parlemen terlibat dalam KAA,” jelas Amelia.

Lebih lanjut Handhani optimis, bulatnya suara dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dalam KAA dapat semakin mendesak PBB dan AS. “ForumKAA ini mendesak Dewan Keamanan PBB dan AS untuk menerima kemerdekaan Palestina sebagai satu hak satu bangsa yang telah lama hidup dijajah dan wilayahnya dicaplok. Tuntutan ini melibatkan 109 negara di dunia, ini tidak main-main,” tegas Hamdhani yang merupakan legislator asal Kalteng ini.

Selain pembahasan tentang Palestina, juga dibahas mengenai formulasi kebijakan terkait kesehatan seperti soal epidemi ebola yang menjadi momok di negara kawasan Afrika, yang juga dapat mengancam Asia. “Selain itu juga isu kesejahteraan seperti di Liberia dan Sudan. Dari segi pembangunan Indonesia, pemerintah kita sudah tanda tangan nota kerjasama investasi tol laut dengan RRT. Hal ini adalah langkah konsisten untuk mewujudkan Indonesia yang disegani di kawasan Asia,” pungkas Hamdhani.