49IMG_27101.jpg

Seminar Peningkatan Kapasitas Kemaritiman

Share with:


Jakarta – Menjadi negara maritim adalah pilihan yang sesungguhnya mengembalikan fitrah bangsa Indonesia kepada asalnya, sebagaimana laut yang dianugerahkan Tuhan kepada bangsa ini lebih luas daripada daratannya. Demikian Viktor Laiskodat melihat semangat untuk membangkitkan spirit dan budaya maritim dalam kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dengan alasan ini pula Fraksi NasDem menggelar diskusi bertema Peningkatan Kapasitas Kemaritiman di Ruang KK V, Gedung Nusantara, Komplek DPR-RI Senayan Jakarta, Jumat (17/04).

Ketua Fraksi Partai NasDem DPR-RI ini melihat pembahasan mengenai optimalisasi potensi maritim Indonesia harusnya semakin diprioritaskan. “Bukankah dalam pidato pelantikannya, Presiden telah menegaskan garis besar visinya dalam pemerintahan ini, bahwa kita tidak akan lagi memunggungi laut,” tegasnya. Ia juga mengilas balik konsistensi Partai NasDem sebagai partai yang dalam embrio dan pendiriannya telah memandang sektor maritim sebagai pilar. “Sedari awal, dalam pembentukan konsep dan visi misi organisasi dan partai, NasDem telah dalam mengkaji persoalan kemaritiman sebagai fokus dalam pembangunan. Dan selalu kami (NasDem-red) ingatkan, bahwa konsep ini akan dapat diterima ketika partai ini sudah menjadi bagian dari pemerintahan,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Viktor, kehadiran Partai NasDem di DPR-RI merupakan langkah strategis untuk menginisiasi kebijakan publik yang berorientasi pada revitalisasi kemaritiman Indonesia. “Soal maritim bukan hanya soal potensi kelautan dan eksploitasinya saja, tetapi bagimana membangun masyarakatnya. Ini soal politik, perekonomian, dan juga budaya,” ujarnya tegas.  Viktor yang juga Ketua Bidang Pertanian & Maritim DPP Partai NasDem ini melihat bahwa untuk membangun Indonesia sebagai negara maritim tidak hanya dari infrastruktur dan teknologi industri maritim hinga pemasaran produk saja, tetapi juga berkaitan dengan dukungan sumber daya manusia juga bidang pertahanannya.

Seminar ini mengundang pakar di sektor maritim yang berasal dari Belanda, Peter A Halm. Sektor maritim di negeri kincir angin tersebut dianggap sangat maju, yakni Rotterdam, kota pelabuhan tersibuk di dunia dalam 4 dekade belakangan ini. Halm menjelaskan bahwa sektor maritim Belanda cukup unik dan spesifik, karena industrinya beraneka segi mencakup produk domestik hingga pasar global, mulai dari kapal keruk, pengeboran lepas pantai, kapal penarik, yatch mewah, transportasi barang-barang, dan kargo pendingin. Selain itu juga Rotterdam menjadi pelabuhan terbesar di Eropa dengan pusat operasi lebih dari 12.000 perusahaan, dengan infrastruktur yang terancang dari sungai, kanal, dan jalur kapal. Tak ketinggalan juga aktivitas riset dan pengembangan teknologi untuk memperbarui dan memperbaiki sistem yang terkoneksi dengan dunia pendidikan.

Tak heran jika Belanda saat ini menjadi pemimpin pasar di bidang kemaritiman dunia, dengan inovasi yang canggih dan terus berkembang. Peter A Halm selaku Penasihat Kebijakan Ekonomi Senior bidang Logistik dan Infrastruktur di Belanda ini mengungkapkan 6 kunci kesuksesan sektor maritim di Belanda, yakni SDM, inovasi, perdagangan, aksesibilitas, keselamatan dan lingkungan yang nyaman, serta keamanan dan stabilitas yang terjaga.

Anggota Dewa Kelautan Indonesia yang juga pengajar Kebijakan Publik di Universitas Indonesia, Son Diamar mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara di lokasi strategis perdagangan dunia, karena 90% perdagangan dunia diangkut melewati laut, dan 40% dari jumlah tersebut melewati Indonesia. Terlebih lagi, salah satu selat tersibuk, yakni Selat Malaka tidak lagi dapat dilewati oleh kapal besar generasi baru. Sedangkan di seluruh Indonesia, khususnya Indonesia Timur memiliki ribuan mill luas laut yang memungkinkan Indonesia membangun pelabuhan skala Internasional yang dapat menjadi pusat perdagangan global.

Jika dibandingkan dengan Belanda yang hanya memiliki Rotterdam, sesungguhnya Indonesia memiliki banyak daerah pantai yang potensial dibangun sebagai pusat pelabuhan perdagangan bertaraf internasional. Son Dimar kemudian menyebut kota bandar internasional yang potensional seperti Kota Agung, Lombok, Donggala, Batam, Sabang, Medan, Padang, Surabaya, Singkawang, Tarakan, Kupang, Bitung, Makassar, Ambon, Morotai, dan Sorong.

Dengan kebijakan publik yang tepat, Son Diamar optimis jika fokus pembangunan ekonomi Indonesia berbasis sumber daya alam dan kemaritiman dalam 10 tahun ke depan, seharusnya dapat menyerap 60 juta orang tenaga kerja, dan mampu menghidupi 180 juta penduduk. (MCNasDem)